Real Madrid

Jelang Final Liga Champions, Skuat Real Madrid Sempatkan Belajar Bahasa Mandarin

Jelang Final Liga Champions kontra Liverpool, para pemain Real Madrid justru menyempatkan diri terlebih dahulu untuk mempelajari bahasa Mandarin. Hal itu dilakukan untuk persiapan tur pramusim yang memang akan bermain di benua Asia, khususnya di Tiongkok.

Real Madrid
Sejumlah pemain Real Madrid menyempatkan belajar bahasa Mandarin jelang final Liga Champions

Pasukan Zinedine Zidane akan menghadapi perlawanan raksasa Liga Premier Inggris, Liverpool di partai puncak UCL musim ini. Laga itu akan berlangsung di NCS Olimpiyskiy, Kiev, Ukraina pada hari Minggu, 27 Mei 2018 dini hari WIB mendatang. Dan diprediksi akan berjalan secara ketat sejak menit awal pertandingan.

Madrid mampu kembali melangkah hingga ke partai final UCL untuk ketiga kalinya secara beruntun. Dimana dua final sebelumnya mampu mereka akhir dengan kemenangan. Menang saat lawan rival sekota, Atletico Madrid di musim 2015/2016 dan Juventus di musim lalu.

Perjalanan Madrid sampai dapat kembali tampil di partai puncak tentu bukanlah hal yang mudah. Mereka melewati hadangan dari tim-tim kuat. Bahkan, jika dilihat, mereka menghadapi perlawanan dari pemuncak klasemen masing-masing liga. Mulai dari Ligue 1 Prancis, Paris Saint Germain di babak 16 besar, Serie A Italia, Juventus ketika di fase perempat final dan terakhir Bundesliga Jerman, Bayern Munchen di babak semifinal. :

pasukan Zinedine Zidane berpeluang untuk kembali mencetak sejarah dengan menjuarai UCL tiga kali secara berturut-turut atau hattrick. Andai hari Minggu dini hari WIB nanti, mereka mampu mengalahkan perlawanan anak-anak Merseyside.

Sedangkan bagi Liverpool, final nanti akan menjadi yang pertama setelah terakhir kalinya mereka rasakan di musim 2007. Saat itu, mereka kalah ditangan raksasa Serie A Italia, AC Milan dengan skor tipis 1-0.

Terakhir kalinya The Reds mengangkat trofi si Kuping Besar itu terjadi di musim 2005 silam. Mereka mampu mengembalikkan ketertingalan 3-0 atas AC Milan dan memenangkan laga melalui babak adu penalti. Dan itu menjadi trofi yang kelima sepanjang sejarah klub.

Liverpool kembali memiliki kesempatan untuk menambah koleksi trofi UCL mereka menjadi yang keenam, apabila pada laga di Kiev nanti, mereka mampu melanjutkan tren positif dengan mengandaskan perlawanan Madrid.

Terlebih lagi berdasarkan catatan sejarah, Si Merah menjadi tim terakhir yang berhasil mengalahkan El Real di final kompetisi Eropa. Itu terjadi di musim 1981 saat turnamen masih bernama Piala Champions dengan meraih kemenangan tipis 0-1.

BONUS BESAR MENANTI SANG JUARA LIGA CHAMPIONS

Trofi Liga Champions diberitakan oleh situs prediksi dan jadwal bola Sundul.com tentu menjadi motivasi yang sangat besar bagi para pemain dari masing-masing klub, tidak terkecuali juga untuk Cristiano Ronaldo yang pada musim panas mendatang akan memimpin Timnas Portugal di pentas Piala Dunia 2018 di Rusia.

Portugal menjadi salah satu peserta yang juga termasuk dalam daftar kandidat juara bersama sang juara bertahan, Jerman dan semifinalis Argentina. Pasalnya, Portugal merupakan juara Piala Eropa edisi 2016 lalu.

Memang mengangkat trofi UCL menjadi motivasi terbesar. Namun untuk lebih meningkatkan rasa percaya diri para pemain agar memberikan performa terbaiknya di atas lapangan, masing-masing tim telah menyiapkan bonus bernilai fantastis.

Pihak manajemen Liverpool siap memberikan bonus tambahan yang mencapai angka 750 ribu pound sterling atau setara Rp14,1 miliar bagi setiap pemain apabila keluar sebagai juara. Perjanjian hadiah itu juga telah tercantum pada kontrak dari masing-masing pemain.

Sedangkan dari kubu Madrid yang diunggulkan dalam prediksi final Liga Champions mengingat mereka adalah juara bertahan, pihak klub menjanjikan bonus yang nilainya jauh lebih besar. Setiap pemain Los Blancos bakal menerima hadiah sebesar 1 juta pound sterling atau sekitar Rp18,8 miliar jika sukses meraih trofi UCL yang ke-13 kalinya atau tiga kali secara beruntun

Tidak berbeda jauh dengan Sergio Ramos yang akan kembali memperkuat Timnas Spanyol di pentas Piala Dunia 2018 mendatang bersama kawan-kawan, perjalanan Liverpool juga sangat sulit. Mereka juga terlebih dahulu harus melewati tantangan dari klub tangguh lainnya hingga mampu tampil di partai final.

Dimulai dari fase play-off melawan tim asal Jerman, Hoffeinhem. Kemudian lolos dari grup yang berisikan juara Liga Europa tiga musim beruntun, Sevilla, Maribor dan Spartak Moskwa. Melangkah ke babak 16 besar, The Reds mendapatkan undian untuk melawan raksasa Liga Portugal, Porto dan sukses melewatinya dengan agregat meyakinkan, 5-0.

Di fase perempat final, Sadio Mane cs dihadang sesama tim Inggris, Manchester City. Tim arahan Pep Guardiola ini merupakan pemuncak klasemen dan tengah dalam performa on fire. Namun, pasukan Jurgen Klopp mampu melewatinya, bahkan mampu meraih kemenangan di dua leg sekaligus. Selanjutnya menyingkirkan AS Roma di babak semifinal.

BELAJAR BAHASA MANDARIN SEHARI-HARI JADI BAGIAN PERSIAPAN REAL MADRID DI FINAL LIGA CHAMPIONS

Berbeda dari Liverpool yang terus mengasah dan meningkatkan kemampuan jelang final Liga Champions akhir pekan nanti, Real Madrid justru mempersiapkan laga penting tersebut secara berbeda. Dimana, sejumlah pemain justru mempelajari bahasa asing, yakni Mandarin.

Cristiano Ronaldo Belajar Bahasa Mandarin Jelang Final Liga Champions
Jelang Final Liga Champions, Cristiano Ronaldo belajar bahasa Mandarin

Salah satunya adalah sang mega bintang Cristiano Ronaldo. Pemain peraih lima penghargaan Ballon d’Or menyempatkan diri untuk mempelajari bahasa asli Tiongkok tersebut. Hal itu ternyata untuk persiapan tim yang bakal melakoni laga tur pramusim di Negeri Tirai Bambu tersebut pada musim panas mendatang.

Lantas, bagaimana persiapan secara tim dari tim arahan Zidane sendiri. Dikutip dari salah satu media olahraga ternama menginformasikan bahwa sebelum terbang ke Ukraina, para pemain terlebih dahulu berlatih secara tertutup di tempat latihan klub di Madrid. Begitu juga dengan yang dilakukan oleh Liverpool.

Berdasarkan prediksi final Liga Champions yang beredar, memang Madrid sangat diunggulkan dibandingkan Liverpool. Namun, bukan berarti bahwa pertandingan telah selesai dengan menjadikan Los Blancos sebagai juara. Pasalnya, The Reds menjadi tim terakhir yang mampu mengandaskan perlawanan Madrid. Itu terjadi di musim 1981 ketika masih bernama Piala Champions.

Menarik untuk dinantikan pertarungan antara dua tim yang telah bekerja keras hingga mampu melangkah ke partai final. Terlepas dari siapa yang juara nanti, wajib untuk diberikan apresiasi yang sebesar-besarnya.

Sepakbola Tiongkok

Rencana Besar Tiongkok Di Dunia Sepakbola

Pada akhir tahun 2017 lalu, situs AGEN JUDI BOLA Indonesia memberitakan Shanghai Shenhua secara resmi mendatangkan Oscar dari Chelsea. Gelandang serang Internasional Brasil itu didatangkan dengan mahar yang mencapai €70 juta. Sehingga menjadikan Oscar sebagai pemain termahal dalam sejarah Liga Super Tiongkok (CSL). Tidak sampai satu tahun, rekor transfer terbesar di CSL terpecahkan, sebelumnya dipegang oleh rekan senagaranya Hulk.

Oscar Shanghai Shenhua
Oscar menjadi pemain termahal dalam sejarah Liga Super Tiongkok (gambar dari: situs bandar bola terpercaya)

Memperhatikan perkembangan yang ditunjukkan oleh Tiongkok dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini, fenomena dalam mendatangkan pemain-pemain top Eropa dengan harga tinggi saat ini sudah dibilang wajar.

Para konglomerat asal Negeri Tirai Bambu perlahan mulai mengambil saham beberapa klub besar Eropa dan mereka rela mengeluarkan dana besar. Di liga domestik mereka sendiri, para pemain bintang dengan harga mahal pun secara bergantian datang.

Pada bulan Januari 2016 lalu, Ramires resmi menjadi pemain termahal yang berkancah di CSL. Setelah gelandang bertahan Brasil itu ditransfer dari The Blues dengan mahar sebesar €28 juta oleh Jiangsu Suning. Hanya sebulan berselang, rekor terbesar itu langsung terpecahkan oleh kedatangan dua pemain bintang yang hadir secara bersamaan. Adalah Jackson Martinez dan Alex Teixeira.

Jackson Martinez direkrut oleh agen bola terpercaya dari raksasa La Liga Spanyol Atletico Madrid dengan harga transfer yang mencapai €42 juta. Sementara Alex Teixeira dari Shakhtar Donetsk dihargai €50 juta.

Coba lihat di pertandingan liga champions yang akan datang,

Motivasi terbesar bagi para pemain Real Madrid dan Liverpool akhir pekan nanti adalah mengangkat trofi Liga Champions. Situs judi Agen BOLA Indonesia memberitakan bahwa Sebuah kompetisi paling bergengsi antarklub Eropa. Namun, bonus yang bernilai fantastis juga tidak boleh dikesampingkan.

Los Blancos dan The Reds akan saling berhadapan di laga bertajuk final Liga Champions musim 2017/2018 di Stadion Olimpiade Kiev, Ukraina pada hari Rabu, 12 September 2018 dini hari WIB mendatang. Kedua tim tentu memiliki ambisi besar masing-masing.

Dari kubu Madrid, laga akhir pekan nanti akan menjadi final UCL yang ketiga kalinya secara beruntun. Dimana dua edisi sebelumnya mampu mereka menangkan. Mengandaskan perlawanan rival sekota, Atletico Madrid musim 2015/2016 dan Juventus di tahun lalu.

Catatan tersebut pun menjadikan El Real sebagai tim pertama di format baru yang mampu meraih juara dua musim secara beruntun. Ini juga semakin menegaskan bahwa mereka adalah raja Eropa di turnamen ini dengan secara total telah mengemas 12 trofi.

Pada bursa transfer musim panas 2016, Hulk hadir dari Zenit St Petersburg dan bergabung ke Shanghai. Penyerang yang memiliki postur badan besar itu ditebus dengan harga €55,8 juta. Dan menjadikannya sebagai pemain termahal sepanjang sejarah CSL. Namun ternyata, rekor itu kembali terpecahkan berkat kehadiran Oscar dari Chelsea.

Rekor transfer Chinese Super League pecah sebanyak lima kali yang hanya dalam kurung waktu satu tahun. Tentunya catatan itu sangat luar biasa. Pasalnya, rekor transfer di Eropa pada umumnya bertahan hingga lima bahkan sepuluh tahun.

Tiongkok Menguasai Sepakbola Dunia

Transfer-transfer besar itu bukan hanya untuk mempertegas kekayaan para investor asal Tiongkok. Tetapi juga memiliki ambisi untuk menjadi juara. Hal itu terbukti dengan Guangzhou Evergrande yang berhasil menjuarai kancah Liga Champions AFC . Adalah kompetisi antarklub benua Asia. Tidak hanya Guangzhou, Shandong Luneng dan Shanghai secara perlahan mulai menunjukkan ambisi mereka di kancah kompetisi Asia.

Sepakbola Tiongkok
Rencana besar Tiongkok dalam dunia sepakbola

Adapun sejumlah transfer fantastis tersebut merupakan bagian kecil dari rencana besar Tiongkok di dunia sepakbola. Sejumlah konglomerat beserta pemerintah bahkan hingga federasi sepakbola telah menyusun suatu rencana yang dapat dibilang lebih besar. Yakni menguasai sepakbola dunia.

Hal itu bukanlah hanya sekedar sarkasme. Pada tahun lalu, federasi tertinggi sepakbola Tiongkok telah merilis 50 poin penting yang mengungkapkan mengenai rancangan transformasi kultur sepakbola. Dalam rilisan tersebut terdapat beberapa detail tentang pengembangan dan reformasi sepakbola.

Tidak hanya sekedar mendatangkan para pemain bintang asal Eropa, namun sepakbola Tiongkok juga memiliki rencana dalam membangun sebuah sistem manajemen yang lebih profesional dan kredibel. Bahkan hingga ke tahap menanamkan budaya sepakbola di dalam masyarakat.

Revolusi Tiongkok Merambah Hingga Eropa

Selain mendatangkan para pemain bintang untuk revolusi sepakbola Tiongkok. Ternyata mereka juga melakukan revolusi di Eropa. Bahkan, Presiden Tiongkok Xi Jinping pun turut ambil dalam rencana besar itu. Ia bahkan hingga rela terbang ke Eropa guna memenuhi ambisinya.

Xi Jinping
Xi Jinping sang presiden Tiongkok pun ambil bagian dalam ambisi besar sepakbola Tiongkok

Faktanya, sejumlah klub besar Eropa saat ini mulai dimiliki oleh beberapa investor Tiongkok. Tentunya pergerakan itu membuktikan bahwa Tiongkok telah berusaha untuk menyelipkan diri dalam market sepakbola Eropa. Dengan tujuan utama untuk mempelajari bagaimana sistem pasa di dunia sepakbola Eropa. Terkhusus di bidang komersial.

Sepakbola Tiongkok

Bocor! Ternyata Dari Sini Klub Tiongkok Dapatkan Uang

Dalam beberapa tahun terakhir ini, perhatian para penikmat sepakbola di seluruh dunia tertuju pada sepakbola Tiongkok. Klub-klub di Negeri Panda tersebut begitu berani untuk mengeluarkan dana yang terbilang besar untuk mendatangkan para pemain berkelas dari Eropa. Bahkan mereka juga berani membayar gaji pesepakbola berkelas dengan nominal yang tak masuk akal. Gaji-gaji yang diterima para pemain juga terbilang tidak bisa diterima oleh nalar.

Sepakbola Tiongkok
Sepakbola Tiongkok

Beberapa klub Tiongkok dapat dengan mudahnya untuk mengeluarkan sejumlah dana demi mendapatkan pesepakbola incarannya. Tidak hanya sekali mereka mengelontorkan dana besar, tetapi berulang kali. Mereka itu seperti memiliki pohon uang yang akan selalu menghasilkan uang yang jumlahnya tidak terbatas. Dan mereka dapat memetik uangnya kapan pun mereka ingin.

Tim-tim sepakbola asal Tiongkok sekarang ini tidak merasa minder ketika mereka harus bersaing dengan kesebelasan-kesebelasan top Eropa dalam mendatangkan pesepakbola kelas dunia. Tentu saja, hal itu karena mereka memiliki dana yang tidak terbatas. Bahkan dapat dibilang bahwa keuangan mereka melebihi beberapa tim Eropa.

Akan tetapi, dari fenomena sepakbola Cina itu muncul sejumlah pertanyaan besar di benak para pencinta sepakbola, salah satunya yakni: “Dari mana asal uang-uang berjumlah besar yang dimiliki oleh mereka?, dan “Seperti apa kompetisi demostik Negeri Panda itu?”.

Ternyata Hal Ini Yang Membuat Sepakbola Tiongkok Bangkit

Sepakbola Tiongkok sejatinya tidak seperti sekarang ini yang bergemilangan uang. Terdapat proses yang sangat panjang hingga mencapai seperti sekarang ini. Perlu diketahui bahwa sepakbola Negeri Tirai Bambu pernah berada di titik nadir. Mereka terpaksa harus ditinggalkan oleh masyarakat Tiongkok yang sejatinya fanatik akan sepakbola.

Sepakbola Tiongkok
Masyarakat kembali mencintai Sepakbola Tiongkok

Hal yang membuat masyarakat Cina meninggalkan sepakbola mereka sendiri adalah karena mereka sudah merasa muak akan berbagai kemunafikan sepakbola di negeri sendiri. Adapun kemunafikan itu berupa kasus pengaturan skor dan korupsi.

Awal abad ke-21 merupakan waktu yang membuat sepakbola Tiongkok benar-benar dihujani oleh berbagai kasus, mulai dari pengaturan skor hingga paling buruk adalah kasus korupsi. Semua elemen sepakbola di Tiongkok terlibat, baik itu sang pengadil lapangan (wasit), pemain, petinggi klub dan bahkan pemimpin otoritas tertinggi sepakbola Cina.

Hingga di akhir tahun 2009, berdirilah sebuah gerakan yang bertujuan untuk memberantas berbagai kasus yang membuat masyarakat meninggalkan sepakbolanya sendiri. Gerakan ini memiliki prinsip utama yakni kelicikan itu harus dibalas dengan kelicikan.

Mereka secara sembunyi-sembunyi melakukan penangkapan para pelaku yang terlibat skandal pengaturan skor dan korupsi sepakbola. Dari orang-orang yang berhasil mereka tangkap itu, mereka memaksa itu menyebutkan nama-nama lainnya yang juga terlibat. Media setempat juga membantu gerakan ini dengan secara langsung menayangkan pengakuan para pelaku.

Presiden Tiongkok, Xi Jinping yang juga merupakan seorang pencinta sepakbola, memerintahkan lembaga pemberantas korupsi untuk menyelidiki berbagai skandal korupsi dan pengaturan skor. Hasilnya, lebih dari 50 orang terbukti salah dan dihukum dengan hukuman seumur hidup tidak boleh aktif di dunia sepakbola.

Uang Klub Tiongkok Berasal Dari Sini

Setelah berhasil membersihkan pelaku-pelaku kasus korupsi dan pengaturan skor, mulailah sepakbola Tiongkok membaik. Dengan semakin menguatnya perekonomian Tiongkok di dunia dan didukung dengan pemerintah setempat, membuat beberapa konglomerat tidak ragu untuk melakukan investasi besar-besaran ke klub-klub Ti0ngkok.

Sepakbola Tiongkok
Para konglomerat Tiongkok berani melakukan investasi besar-besaran di dunia sepakbola

Hal itu terbukti dengan banyaknya perusahaan Tiongkok yang mengakuisisi tim-tim Tiongkok. Seperti diantaranya Alibaba dan Evergrande Group yang mengakuisisi Guangzhou Evergrande, Greenland Holdings mengakuisisi Shanghai Greenland Shenhua dan Suning Group mengakuisisi Jiangsu Suning.