Sepakbola Tiongkok

Bocor! Ternyata Dari Sini Klub Tiongkok Dapatkan Uang

Dalam beberapa tahun terakhir ini, perhatian para penikmat sepakbola di seluruh dunia tertuju pada sepakbola Tiongkok. Klub-klub di Negeri Panda tersebut begitu berani untuk mengeluarkan dana yang terbilang besar untuk mendatangkan para pemain berkelas dari Eropa. Bahkan mereka juga berani membayar gaji pesepakbola berkelas dengan nominal yang tak masuk akal. Gaji-gaji yang diterima para pemain juga terbilang tidak bisa diterima oleh nalar.

Sepakbola Tiongkok
Sepakbola Tiongkok

Beberapa klub Tiongkok dapat dengan mudahnya untuk mengeluarkan sejumlah dana demi mendapatkan pesepakbola incarannya. Tidak hanya sekali mereka mengelontorkan dana besar, tetapi berulang kali. Mereka itu seperti memiliki pohon uang yang akan selalu menghasilkan uang yang jumlahnya tidak terbatas. Dan mereka dapat memetik uangnya kapan pun mereka ingin.

Tim-tim sepakbola asal Tiongkok sekarang ini tidak merasa minder ketika mereka harus bersaing dengan kesebelasan-kesebelasan top Eropa dalam mendatangkan pesepakbola kelas dunia. Tentu saja, hal itu karena mereka memiliki dana yang tidak terbatas. Bahkan dapat dibilang bahwa keuangan mereka melebihi beberapa tim Eropa.

Akan tetapi, dari fenomena sepakbola Cina itu muncul sejumlah pertanyaan besar di benak para pencinta sepakbola, salah satunya yakni: “Dari mana asal uang-uang berjumlah besar yang dimiliki oleh mereka?, dan “Seperti apa kompetisi demostik Negeri Panda itu?”.

Ternyata Hal Ini Yang Membuat Sepakbola Tiongkok Bangkit

Sepakbola Tiongkok sejatinya tidak seperti sekarang ini yang bergemilangan uang. Terdapat proses yang sangat panjang hingga mencapai seperti sekarang ini. Perlu diketahui bahwa sepakbola Negeri Tirai Bambu pernah berada di titik nadir. Mereka terpaksa harus ditinggalkan oleh masyarakat Tiongkok yang sejatinya fanatik akan sepakbola.

Sepakbola Tiongkok
Masyarakat kembali mencintai Sepakbola Tiongkok

Hal yang membuat masyarakat Cina meninggalkan sepakbola mereka sendiri adalah karena mereka sudah merasa muak akan berbagai kemunafikan sepakbola di negeri sendiri. Adapun kemunafikan itu berupa kasus pengaturan skor dan korupsi.

Awal abad ke-21 merupakan waktu yang membuat sepakbola Tiongkok benar-benar dihujani oleh berbagai kasus, mulai dari pengaturan skor hingga paling buruk adalah kasus korupsi. Semua elemen sepakbola di Tiongkok terlibat, baik itu sang pengadil lapangan (wasit), pemain, petinggi klub dan bahkan pemimpin otoritas tertinggi sepakbola Cina.

Hingga di akhir tahun 2009, berdirilah sebuah gerakan yang bertujuan untuk memberantas berbagai kasus yang membuat masyarakat meninggalkan sepakbolanya sendiri. Gerakan ini memiliki prinsip utama yakni kelicikan itu harus dibalas dengan kelicikan.

Mereka secara sembunyi-sembunyi melakukan penangkapan para pelaku yang terlibat skandal pengaturan skor dan korupsi sepakbola. Dari orang-orang yang berhasil mereka tangkap itu, mereka memaksa itu menyebutkan nama-nama lainnya yang juga terlibat. Media setempat juga membantu gerakan ini dengan secara langsung menayangkan pengakuan para pelaku.

Presiden Tiongkok, Xi Jinping yang juga merupakan seorang pencinta sepakbola, memerintahkan lembaga pemberantas korupsi untuk menyelidiki berbagai skandal korupsi dan pengaturan skor. Hasilnya, lebih dari 50 orang terbukti salah dan dihukum dengan hukuman seumur hidup tidak boleh aktif di dunia sepakbola.

Uang Klub Tiongkok Berasal Dari Sini

Setelah berhasil membersihkan pelaku-pelaku kasus korupsi dan pengaturan skor, mulailah sepakbola Tiongkok membaik. Dengan semakin menguatnya perekonomian Tiongkok di dunia dan didukung dengan pemerintah setempat, membuat beberapa konglomerat tidak ragu untuk melakukan investasi besar-besaran ke klub-klub Ti0ngkok.

Sepakbola Tiongkok
Para konglomerat Tiongkok berani melakukan investasi besar-besaran di dunia sepakbola

Hal itu terbukti dengan banyaknya perusahaan Tiongkok yang mengakuisisi tim-tim Tiongkok. Seperti diantaranya Alibaba dan Evergrande Group yang mengakuisisi Guangzhou Evergrande, Greenland Holdings mengakuisisi Shanghai Greenland Shenhua dan Suning Group mengakuisisi Jiangsu Suning.